Sabtu, 04 Juli 2009

Segitunyakah???

Jakarta, 4 Juli 2009
Hari ini diajak sama mama untuk menghadiri acara lamaran. Awalnya malas, tapi setelah dipikir-pikir...lumayan nih ada makan gratis,apalagi yang punya hajat orang kaya,saking kayanya mungkin tujuh turunan tidak habis-habis. Dahsyaaat..
Sekedar latar belakang,yang punya hajat ini anaknya banyak,tapi uangnya juga banyak, sudah gitu yang akan dilamar adalah anak bungsu dan yang terakhir yang belum menikah. Wahhh..
Kubayangkan bakal seru nih...apalagi dengar-dengar selentingan (tukang gosip banget ya..), untuk lamaran mereka menyewa tenda yang wahh dan pakai AC,jadi ruangan tertutup. Ini lamaran apa sudah resepsi?kok heboh sekali...
Akhirnya berangkatlah aku dengan mama tercinta,
Tapi sebelum berangkat,mama tersayang berpesan,"pakai bajunya yang keren dan bagus ya...jangan malu-maluin.."
Duh..segitunya mamski sama anak, tidak percaya banget. Yang penting pakai bajukan???hehehe
Ba'da maghrib, langsung jalan. Jalan kaki..hllah, orang rumahnya dekat koq. Hanya bedanya rumahku didalam gang, sedangkan rumah yang punya hajat persis dijalan besar.Sesampai disana.
Wah....Segitunyakah??
Tidak mungkin negeri kita krismon.
Tidak mungkin sedang krisis...
Mungkin aku yang wong cilik yang krisis tapi teman mamaku dan termasuk tetanggaku ini tidak krisis.
Dan tidak mungkin-tidak mungkin lainnya
Tendanya keren dan bagus sekali, mewah pastinya+AC, belum lagi fotografernya;banyak sekali. Sebenarnya mau meliput apa dan siapa sih?
Bahkan kursi pun sudah ada namanya,jadi tidak sembarang orang yang bisa duduk. Aku jadi was-was, karena akukan termasuk undangan yang tidak diharapkan. hikshiks
Untungnya aturan kursi hanya untuk yang didalam ruangan, yang diluar bisa bebas duduk sesukanya, asal jangan nongkrong dipinggir jalan saja.
Disana belum terlalu banyak tamunya, apalagi dari pihak laki-laki belum datang.
Menurut selentingan (gosip lagi, maklum ibu-ibu) calonnya orang Malaysia,ketemu waktu si perempuan study di Malaysia.
Wahh..Tidak takut? nanti kayak mano atau TKI-TKI. >_<
Semoga tidak..
Sambil menunggu, sambil FBan, sambil mata jelalatan...untuk melihat-lihat kemewahan
Dari pihak keluarga perempuan berdandan habis-habisan, apalagi ini anak bungsu, perempuan pula.
Untuk kami tamu yang diluar, disediakan TV untuk nanti melihat acara yang berlangsung didalam rumah.
Ckk..ck..ck..
Kakak-kakak maupun ipar-iparnya bling-bling sekali, bahkan baby sitter anak-anak mereka dirias, baik muka dan rambutnya.Psst: maaf untuk kaki belum sempat lihat
Segitunyakah??Tidak lama kemudian, rombongan dari pihak laki-laki datang. Ampuun...
Ternyata mereka hanya terdiri dari 5 orang, itupun sudah termasuk dengan sang pelamar.
Yang laki-laki memakai baju "teluk belange" sebutan untuk pakaian melayu laki-laki, sedangkan yang perempuan memakai baju kurung melayu.
Pikirku apa yang salah ya???
Koq ada yang tidak pas???
MC bagus sekali,
Sambutan dari pihak laki-laki, singkat dan melayu sekali,
Sambutan dari pihak perempuan, kebapakan sekali.
Tapi koq ada yang salah, tapi apa??
Tiba-tiba mamaku berbisik disampingku, "sayang ya, dari pihak perempuan tidak memakai pakaian adat bugis (karena asli bugis)"
Ahaa..itu dia..
Akhirnya ketemu juga apa yang tidak pas. (trims mom)
Dari pihak laki-laki pakai pakaian adat dari negeri mereka sendiri yaitu pakaian melayu, sedangkan dari perempuan...
sayang seribu sayang
Untuk calon mempelai perempuan memakai baju modern atau baju bebe (sebutan tepatnya tidak tahu), begitu juga dengan keluarganya.
Segitunyakah??
Mereka tidak bangga dengan pakaian adat tradisional sendiri?
Padahal baju bodo dari bugiskan bagus!!
Segitunyakah, adat dan budaya daerah sudah luntur??
sayang, sungguh sayang...
Pantaslah negera tetangga mengaku-aku baju kebaya, batik, dan lagu rasa sayang-sayange sebagai bagian dari mereka.
Karena kitanya sendiri sudah lupa dengan keragaman dan kekayaan adat dan budaya yang kita miliki.
Walaupun acara lamaran ini membuatku kenyang, tapi ada terbersit kekecewaan dalam hati.
Segitunyakah mereka??
Segitunyakah kita??
bahkan segitunyakah aku??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar